Pendekatan Contectual Teaching and Learning

  1. Contectual Teaching and Learning

Pembelajaran Contectual Teaching and Learning (CTL) berawal dari ketidakpuasan para pengusaha di Amerika akan kemampuan para pencari kerja. Berdasarkan laporan secretary of labor’s commision on achieving necessary skills (SCANS), para pengusaha di Amerika membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya memiliki kemampuan di bidang akademik saja, tetapi mereka juga memiliki keterampilan praktis.

Berdasarkan permasalahan di atas muncullah desakakan reformasi dalam bidang pendidikan. Reformasi yang diinginkan ialah guru memberikan siswa bukan hanya keunggulan akademis, melainkan juga keterampilan teknis. Hal ini banyak mendapat dukungan dari pemerintah di Amerika bahkan mereka menerbitkan buku untuk menggambarkan isu-isu pendidikan yang muncul agar para pendidik ikut serta dalam memperbaiki dan mau menggati metode yang mereka terapkan dengan tujuan dan strategi yang baru.

Usaha yang dilakukan pemerintah ini tidak sia-sia. Pada tahun 90-an lembaga di Amerika telah berhasil mengadakan latihan kerja tentang mengaitkan mata pelajaran akademik dengan kehidupan nyata di seluruh Amerika. Keberhasilan ini menunjukan bahwa dukungan para pendidik terhadap program ini sangatlah besar.

  1. Definisi Contectual Teaching and Learning

Kata konteks dapat dipahami sebagai pola hubungan-hubungan di dalam lingkungan langsung seseorang. Landasan filosofis CTL adalah konstruktivisme yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekadar menghafal, tetapi merekonstruksikan atau membangun pengetahuan dan keterampilan baru lewat fakta-fakta atau proposisi yang mereka alami dalam kehidupannya. Pendekatan ini selaras dengan konsep kurikulum berbasis kompetensi yang diberlakukan saat ini dan secara operasional tertuang pada KTSP. Kehadiran kurikulum berbasis kompetensi juga dilandasi oleh pemikiran bahwa berbagai kompetensi akan terbangun secara mantap dan maksimal apabila pembelajaran dilakukan secara kontekstual.

Contectual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarakan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong agar siswa mampu menerapkannya dalam kehidupan. Pengaitan antara pembelajaran dengan dunia nyata (lingkungan) dapat membantu siswa dalam mencari makna dari pelajaran tersebut. Karena lingkungan memberikan pengalaman secara langsung, serta siswa dapat mengalami sendiri dari apa yang mereka pelajari. Contoh: ketika guru mengajar siswa tingkat Sekolah Dasar tentang makna iri hati. Guru menjelaskan bahwasannya iri hati merupakan sikap ketidak senangan bila melihat orang lain mendapat hal yang baik. Kemudian, guru mengaitkan materi (makna iri hati) dengan lingkungan dengan cara menyuruh siswa mengambil buah apel di dalam keranjang tanpa boleh melihat isinya. Dari hal itu ada siswa yang memperoleh apel yang bagus, ada yang busuk, yang kecil dan yang besar. Kemudian guru menjelaskan bahwa apapun yang didapat, kita tidak boleh iri dengan teman yang mendapat apel lebih baik dari kepunyaan kita. Karena siswa mengalami sendiri bagaimana rasa iri hati, maka mereka akan tahu bahwa seperti itulah sifat iri hati dan mereka pun bisa memahaminya.

 

  1. Contectual Teaching and Learning  Cocok dengan Otak

Ilmu saraf memastikan adanya kebutuhan otak untuk menemukan makna. Karena otak terus-menerus mencari makna dan menyimpan hal-hal yang bermakna, maka proses mengajar harus melibatkan para siswa dalam pencarian makna. Proses mengajar harus memungkinkan para siswa memahami arti pelajaran yang mereka pelajari. Tugas guru adalah membantu para siswa mengirim informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Pengiriman ini dapat terjadi jika otak mengerti apa yang dipelajarinya dan  menemukan makna di dalam hal yang dipelajarinya.

Selain membutuhkan makna otak manusia juga dipengaruhi oleh lingkungannya. Peneliti mengenai otak berpendapat bahwa lingkungan memiliki pengaruh yang besar. Otak anak yang banyak menghabiskan waktu menonton film sangat berbeda strukturnya dengan otak anak yang sering berbicara dengan orang dewasa. Misalnya anak berusia 2 tahun  memiliki orang tua yang hardworker ia jarang berkomunikasi dengan orang tua atau lingkungannya. Orang tua lebih suka mendudukkan anak di depan televisi karena dianggap ia tidak akan rewel. Kalau dibiarkan terus menerus hal ini akan menjadikan anak tersebut mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain (komunikasi dua arah). Karena yang sering ia lakukan hanya berkomunikasi satu arah (melihat televisi).

Jadi, dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran otak manusia membutuhkan makna suatu yang dipelajari dan lingkungan dalam menerapkannya. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa pembelajaran CTL merupakan sistem yang cocok dengan otak.

 

Komponen Contectual Teaching and Learning

Pendekatan Contectual Teaching and Learning melibatkan tujuh komponen utama dalam penerapannya, yaitu:

  1. 1.      Konstruktivisme, merupakan landasan berpikir pendekatan CTL yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit dan hasilnya diperluas. Dalam teori ini siswa harus menemukan dan mentrasformasikan suatu informasi. Siswa membangun sindiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar.
  2. 2.      Menemukan (Inquiry), kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban yang sudah pasti dari suatu masalah yang dipertanyakan. Langkah-langkah kegiatan inquiri: a). merumuskan masalah; b). mengamati dan melakukan observasi; c). menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan; d). mengomunikasikan atau menyajikan hasil pada pembaca atau audience.
  3. 3.      Bertanya (Quenstioning), merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis CTL. Bertanya dalam pembelajaran dipandang kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa.
  4. 4.      Masyarakat Belajar (learning community), konsep ini menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Guru diharapkan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok belajar. Dalam kelompok belajar siswa akan saling memberikan informasi yang mereka ketahui.

 

  1. 5.      Pemodelan (Modeling), dalam sebuah pembelajaran keterampilan dan pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Model bisa merupa cara mengoprasikan sesuatu seperti cara melafalkan dan membuat karya dan sebagainya. Dalam pendekatan CTL guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa seperti menyuruh salah satu siswa untuk memberikan contoh kepada temannya cara melafalkan suatu kata.
  2. 6.      Refleksi (reflection), merupakan kegiatan memikirkan apa yang baru dipelajari, menelaah, dan merespon semua kejadian, aktivitas atau pengalaman yang terjadi dalam pembelajaran. Tujuannya adalah bagaimana pengetahuan/informasi dapat melekat dibenak siswa.
  3. 7.      Penilaian Sebenarnya (Authentic Assessment)

merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Melalui penilaian guru bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses belajar dengan benar. Jika diketahui bahwa ada siswa yang mengalami kegagalan dalam belajar, guru bisa melakukan perbaikan dengan tepat dan segera. Assessment ini tidak dilakukan di akhir pembelajaran seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar tetapi dilakukan bersamaan dengan secara terintegrasi dari kegiatan pembelajaran.

Karakteristik authentic assessment diantaranya: dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran, bisa digunakan untuk formatif dan sumatif, yang diukur keterampilan dan performasi, berkesinambungan, terintegrasi dan dapat digunakan sebagai feed back.

1. Strategi Pengajaran yang Berorientasi dengan CTL

    1. CBSA
    2. 2.      Life skill education
    3. 3.      Inquiry based learning
    4. 4.      Cooperative learning
    5. 5.      Service learning.

 

 

 


http://almasdi.unri.ac.id,diakses tanggal 19 Desember 2012

Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran (Sebagai Referensi Bagi Pendidik dalam Implementasi Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas), (Jakarta: Kencana Prenada Group, 2009). Hal. 161   

Elaine B. Johnson, Contectual Teaching and Learning, terj. Ibnu Setiawan, (Bandung: Mizan Learning Center, cet. 3, 2007). Hal. 36 dan 57

Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, cet. 5: 2012). Hal. 191

Hanik Mahliatussikah,  Jurnal Al-‘Adalah, (Jember: STAIN Jember, vol.8: 2005). Hal. 45

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s