Biografi & Teori Skinner

  1. Pengantar Biografi Skinner

Burrhus Frederic Skinner lahir pada tahun 1904 dan tumbuh di sebuah kota kecil di Susquehanna, Pennsylvania. Setelah lulus dari sekolah menengah atas, dia pergi ke Hamilton college di New York. Disana dia meresa seperti salah tempat, namun akhirnya dia berhasil juga lulus dengan menyelesaikan tugas akhir di bidang sastra Inggris. Karena ketertarikannya kepada tingkah laku manusia dan hewan, maka dia pun menyandang gelar kesarjanaan psikologi di Harvard, tempat dimana dia memulai riset dan merumuskan ide-idenya tentang pembelajaran. Skinner mengajar di University of Minnesota (1936-1945), Indiana University (1945-1947), dan Harvard University (1947 sampai meninggal di tahun 1990).

Karya tulis terakhirnya berjudul about behaviorism diterbitkan pada tahun 1974. Tema pokok yang mewarnai karya-karyanya adalah bahwa tingkah laku itu terbentuk oleh konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkan oleh tingkah laku itu sendiri.[1]

  1. Pengertian

Pengkondisian operan (pengkondisian instrumental) adalah sebentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan yang seberapa sering perilaku itu akan diulangi. Konsekuensi perilaku tersebut akan menyebabkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan terjadi, merupakan inti dari behaviorisme Skinner. Konsekuensi-imbalan atau hukuman bersifat sementara (kontigen) pada perilaku organisme.[2]

Untuk mempelajari pengkondisian operan, Skinner membuat sebuah alat yang dikenal ‘Kotak Skinner’. Disalah satu sisinya ada sebuah tuas yang jika ditekan otomatis mengeluarkan makanan dan air. Hewan seperti tikus, awalnya memukul-mukul semua sisi kotak sampai akhirnya tak sengaja memukul tuas itu dan memperoleh hadiah (makanan dan mimum). Namun seiring waktu, tikus tersebut memekan tuas lebih sering lagi. Ukuran belajar yang paling penting, bagi Skinner, adalah tingkatan atau kecepatan responnya. Ketika respon-respon diperkuat, maka kecepatan peristiwa meningkat. Lewat kotak Skinner ini, tuas secara otomatis dihubungkan kepada mesin pencatat grafik yang kemudian data dipresentasikan sebagai kurva belajar.

Jadi, pengkondisian operan merupakan pembelajaran pembentukan sikap yang mana sikap tersebut sesuai dengan yang kita inginkan dan mengahilangkan sikap yang tidak kita inginkan. Sikap tersebut juga ditentukan oleh konseukensi-konsekuensinya. Jika konsekunsinya baik atau menyenangkan maka, sikap tersebut akan sering dilakukan.

  1. Prinsip-prinsip Pengkondisian
    1. Penguatan dan Kepunahan

Penguatan (reinforcement) adalah stimuli yang mengikuti suatu respond dan yang memperkuat atau memuaskan kemungkinan respon. Reinforcement terdiri dari dua macam yaitu posif dan negatif. Contoh penguat positif: guru memuji seorang murid yang mengajukan banyak pertanyaan. perilaku kedepan, murid akan lebih banyak bertanya; penguat negatif: guru berhenti menegur murid karena menyerahkan PR tetap waktu. Perilaku ke depan murid akan sering menyerahkan PR tetap waktu.

     kepunahan (extinction) adalah proses dimana suatu operant yang dibentuk tidak dapat penguat lagi. Dengan demikian dapat menyebabkan intensitas dan frekuensinya menurun.[3] Contoh, karena anak-anak melakukan hal-hal hanya untuk mendapat perhatian, maka kita bisa memadamkan tingkah laku yang tidak diinginkan seperti tangisan yang keras, dengan cara mengajaknya keluar ke tempat lain. Tapi tangisan itu akan datang lagi kalau berada di tempat yang awal.

    1. Penguatan Harus Bersifat Segera (immediacy of reinforcement)

Contoh: jika seorang ayah menunjukkan rasa senang setelah anaknya membawakan minum, maka si anak akan mengulangi lagi tingkah laku tersebut. Namun jika si ayah terlambat memperkuat tingkah laku anaknya beberapa menit saja, maka tingkah laku itu tidak akan menguat. Faktanya, tingkah laku yang kuat adalah tingkah laku yang diperkuat.

    1. Stimuli Pembeda (Discriminative Stimuli)

Diskriminasi membedakan antara stimuli dan proses dimana organisme mengenal ciri-ciri stimuli yang berbeda. Meskipun stimuli pembeda dapat menjadi pengontrol yang baik, namun harus ditekankan kalau pengontrolan ini tidak berjalan otomatis seperti dalam pengondisian respons. Skinner mendata sejumlah contoh untuk menunjukkan bagaimana tingkah laku jadi melekat pada stimuli pembeda. Kita belajar bahwa senyum yang terlontar saat kita sedang mendekati seseorang akan menghasilkan respons positif. Namun jika dia menerutkan dahi, pendekatan akan menghasilkan konsekuensi tidak menyenangkan. Sejauh respons positif yang muncul, maka ekspresi wajah menjadi pembeda yang mengontrol stimuli-stimuli lain sehingga kita jadi berani mendekati.[4]

    1. Generalisasi

Generalisasi dalam pengkondisian operan berarti memberikan respon yang sama terhadap stimuli yang sama. Misalnya : jika pujian guru membuat murid lebih giat belajar, apakah pujian tersebut juga berlaku pada pekerjaan lain seperti pekerjaan rumah?.

  1. Aplikasi Praktis Dalam Pendidikan

Skinner mengakui bahwa aplikasi dari teori opernt adalah terbatas, tetapi ia merasa ada implikasi praktis, bagi pendidikan. Ia mengemukakan bahwa control yang positif (menyenangkan) mengadung sikap yang menguntungkan terhadap pendidikan dan akan lebih efektif bila digunakan.

Ada beberapa prinsip pengajaran yang dapat digunakan berdasarkan operant conditioning, yaitu:

    1. memberi tekanan kepada kemajuan individu sesuai dengan kesanggupannya.
    2. pentingnya penilaian yang terus menerus untuk menetapkan tingkat kemajuan yang dicapai siswa.
    3. peranan guru lebih diarahkan kepada peranannya sebagai arsitek dan pembentuk tingkah laku siswa.
    4. program remedial bagi siwa yang memerlukan harus diberikan agar mncapai prinsip belajar tuntas.[5]
  1. Kelemahan Operant

Diantara kelemahan-kelemahan teori ini adalah sebagai berikut:

  1. proses belajar itu dipandang dapat diamati secara langsung, padahal belajar adalah proses kegiatan mental yang tidak dapat disaksikan dari luar kecuali sebagaian gejala.
  2. Proses belajar itu dipandang bersifat otomatis-mekanis, sehingga terkesan seperti gerakan mesin robot, padahal setiap siswa memiliki  self-regulation (kemampuan mengatur diri sendiri) dan self-control (pengendalian diri) yang bersifat kognitif, oleh sebab itu ia bias menolak, merespons jika ia tidak menghendaki, misalnya karena lelah atau berlawanan dengan kata hati.
  3. Proses belajar manusia yang dianalogikan dengan perilaku hewan itu sangat sulit diterima, mengingat amat mencoloknya perbedaan antara karakter fisik dan psikis manusia dengan karakter fisik dan psikis hewan.[6]

[1] Muhibbin, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Perseda, 2003) hal.98

[2] Jhon w. Santrock, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), hal.272

[3] Nana Sudjana, Teori-teori Belajar Untuk Pengajaran, (Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI, 1991), hal.90

[4] William Crain, Teori Perkembangan; Konsep dan Aplikasi (Yogjakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hal.281

[5] Teori-teori Belajar Untuk Pengajaran, ibid, hal.93

[6] Psikologi Belajar, ibid, hal.100

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s