Dalam mempelajari bahasa ada istilah INTERFERENSI & INTEGRASI. apa itu ???? silakan baca dibawah ini.

 

  1. Pengertian Interferensi

Mengenai pengertian interferensi, para ahli sosiolinguistik berbeda pendapat berikut ini beberapa pendapat dari para ahli.

  1. Alwasilah, merujuk pada pendapat Hartman dan Stork bahwa interfensi merupakan kekeliruan yang disebabkan oleh adanya kecenderungan membiasakan pengucapan (ujaran) suatu bahasa terhadap bahasa lain mencakup pengucapan satuan bunyi, tata bahasa, dan kosakata.[1]
  2. Nababan, berpendapat interferensi merupakan pengacauan yang terjadi sebagai akibat terbawanya kebiasaan-kebiasaan ujaran bahasa ibu atau dialek ke dalam bahasa atau dialek kedua.[2]
  3. Abdul Chaer dan Leonie Agustina, merujuk pada pendapat Weinreich bahwa interferensi merupakan persentuhan sistem bahasa satu dengan unsur bahasa yang lain yang dilakukan oleh penutur bilingual.[3]

Pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa interferensi ialah kekeliruan yang disebabkan karena pengaruh sistem bahasa pertama terhadap bahasa kedua.

Interferensi terjadi pada orang dengan tipe bilingualitas majemuk. Yaitu orang yang menguasai dua bahasa, namun kedua bahasa tersebut tidak sama-sama kuat. Karena tidak sama mahir/kuatnya maka, muncullah “pengacauan”/ interferensi. Umumnya interferensi terjadi ketika seseorang belajar bahasa kedua, dalam hal ini biasa disebut gejala interferensi belajar/perlakuan. Seperti halnya pendapat Nababan penyebab interferensi adalah karena terbawanya unsur bahasa pertama kedalam  bahasa kedua dan kurangnya penguasaan terhadap bahasa kedua.

Interferensi menurut Jedra dapat dibedakan menjadi lima aspek kebahasaan yaitu:

  1. interferensi pada bidang sistem tata bunyi (fonologi)
  2. interferensi pada tata bentukan kata (morfologi)
  3. interferensi pada tata kalimat (sintaksis)
  4. interferensi pada kosakata (leksikon)
  5. interferensi pada bidang tata makna (semantik).[4]

Interferensi dalam bidang fonologi, morfologi dan sintaksis merupakan sebuah pengacauan. Namun pada bidang kosakata dan semantik interferensi dapat mengembangkan dan memperkaya suatu bahasa. Bahasa yang mempunyai latar belakang sosial budaya yang luas dan kosakata yang banyak dapat memberikan sumbangan terhadapat bahasa yang berkembang. Dalam proses ini bahasa pemberi disebut bahasa donor dan bahasa yang menerima disebut bahasa resipien. Sedangkan unsur bahasanya disebut inportasi. Supaya dapat mengetahui lebih jelas lagi contoh-contoh interferensi akan dibahas pada bab berikutnya.

  1. Contoh Interferensi

Contoh interferensi dalam bidang fonologi, morfologi dan sintaksis.

  1. Bidang fonologi

Contoh interferensi dalam bahasa Indonesia seperti masyarakat tutur bahasa Jawa yang sering menambahkan nasal yang homorgan di depan kata-kata yang berawalan dengan konsonan /b/, /d/, /g/ dan /j/, misal:

  1. Bandung dibaca mBandung.
  2. Dagang dibaca nDagang.
  3. Gagah .
  4. Jambi dibaca nyJambi
  5. Bidang morfologi

Sering tidak kita sadari, bahwa kita telah lakukan interfernsi pada bidang morfologi. Seperti kata kemahalan, ketabrak, kelamaan, kekecilan dan lain-lain. Kata-kata tersebut berasal dari bahasa Jawa, yang benar dalam bahasa Indonesia adalah terlalu mahal, tertabrak, terlalu lama dan  terlalu kecil.

  1. Bidang sintaksis

Contoh bahasa Indonesia dari seorang bilingual Jawa-Indonesia. Dalam kalimat “Rumah ayah Ali yang besar sendiri di kampung ini”. Kalimat tersebut walau berbahasa Indonesia tapi bergramatika bahasa Jawa, yang sebenarnya dalam bahasa Jawa “omahe ayah Ali sing gedhe dhewe di kampung iki”. Bahasa Indonesia yang benar “Rumah  ayah Ali adalah rumah yang paling besar disini”.

 

  1. Pengertian Integrasi

Menurut Mackey integrasi ialah unsur-unsur bahasa lain yang digunakan dalam bahasa tetentu dan dianggap sebagai bagian dari bahasa tersebut, tidak lagi dianggap sebagai unsur pinjaman. Untuk lebih mudah memahami integrasi, kita dapat mengartikannya sebagai penyerapan kata.

Proses integrasi dalam bahasa indonesia memerlukan waktu dan tahapan yang panjang, diantaranya:

  1. Seorang mendengarkan butir-butir leksikal suatu bahasa dari penutur aslinya. Kemudian ia mencoba untuk menggunakannya berdasarkan apa yang didengarnya. Proses penerimaan seperti ini dilakukan secara audio.
  2. Seorang penutur menggunakan unsur bahasa lain dalam tuturannya sebagai unsur pinjaman karena hal tersebut dirasa sangat diperlukan. Kemudian kata asing tersebut diterima dan digunakan oleh orang lain. maka, kata tersebut bisa dikatakan sebagai unsur atau kata yang telah berintegrasi.
  3. Setelah ditetapkannya pedoman umum pembentukan bahasa Indonesia yang disempurnakan, maka penerimaan bahasa asing tidak lagi secara audio melain secara visual. Yaitu penerimaan dan penyerapan unsur bahasa asing dilakukan berdasarkan bentuk tulisan aslinya. Kemudian unsur bahasa tersebut disesuai dengan pedoman yang telah ada.

Kalau sebuah kata serapan sudah ada pada tingkat integrasi maka, artinya kata serapan sudah disetujui dan converged into the new language. Karena itu proses integrasi ini biasa disebut konvergensi.[5]

 

  1. Contoh Integrasi

Contoh integrasi berdasarkan pedoman umum pembentukan istilah yaitu :

  1. system menjadi sistem,
  2. standardisation menjadi standardisasi,
  3. textile menjadi tekstil,
  4. maximal menjadi maksimal,
  5. Pencil menjadi pensil.

 


[2] PJW. Nababan, Sosiolinguistik, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1993), hal. 35

[3] Abdul Chaer dan Leonie Agustin, Sosiolinguistik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010 ), hal.120

[4] Ibid,. http://pusatbahasaalazhar.wordpress.com ……………….  (Diakses tanggal 16 Mei 2012)

 

[5] Abdul Chaer dan Leoni Agustina, Ibid,. hal. 130

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s