Model Pembelajaran Numbered Heads Together

  1. A.  Numbered Heads Together

Numbered Heads Together (NHT) merupakan salah satu variasi pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning). Pembelajaran kooperatif bernaung dalam teori kontruktivis. Pembelajaran ini muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menenukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Jadi pembelajaran kooperatif lebih megutamakan pembelajaran dalam sistem kelompok.

Terdapat lima prinsip yang mendasari pembelajaran kooperatif, yaitu:

  1. positive independence yaitu adanya saling ketergantungan positif yakni anggota kelompok menyadari pentingnya kerja sama dalam pencapaian tujuan.
  2. Face to face artinya antar anggota saling berinteraksi.
  3. Individual accountability artinya setiap anggota kelompok harus belajar dan aktif memberikan konstribusi untuk mencapai keberhasilan kelompok.
  4. Use of collaborative/social skill artinya menggunakan keterampilan kerjasama.
  5. Group processing artinya siswa perlu menilai bagaimana mereka bekerja secara efektif. Baca lebih lanjut

PENGEMBANGAN KURIKULUM

  1. Pengertian Pengembangan Kurikulum

Beberapa pendapat tentang pengertian pengembangan kurikulum, diantaranya:

  1. Caswell mengartikan pengembangan kurikulum sebagai alat untuk membantu guru dalam melakukan tugas mengajarkan bahan, menarik minat siswa dan memenuhi kebutuhan masyarakat.[1]
  2. Menurut Beane, Toepfer dan Allesia menyatakan bahwa perencaan atau pengembangan kurikulum adalah suatu proses dimana partisipasi pada berbagai tingkat dalam membuat keputusan tentang tujuan, tentang bagaimana tujuan direalisasikan melalui proses belajar-mengajar dan apakah tujuan dan alat itu serasi dan efektif.[2]
  3. Menurut Prof. Drs. H. Dakir, pengembangan kurikulum ialah mengarahkan kurikulum sekarang ke tujuan pendidikan yang diharapkan karena adanya berbagai pengaruh yang sifatnya positif yang datangnya dari luar atau dalam diri sendiri, dengan harapan agar peserta didik dapat menghadapi masa depannya dengan baik.[3]

Berdasarkan kedua pendapat tersebut di atas dapat dikatakan bahwa pengembangan kurikulum merupakan suatu proses yang merencanakan, menghasilkan suatu alat yang lebih baik dengan didasarkan pada hasil penilaian terhadap kurikulum yang telah berlaku, sehingga dapat memberikan kondisi belajar-mengajar yang lebih baik.  Dengan kata lain pengembangan kurikulum merupakan kegiatan untuk menghasilkan kurikulum baru melalui langkah-langkah penyusunan kurikulum berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan selama periode waktu tertentu.

 

 

 

 

  1. Landasan pengembangan Kurikulum
    1. Asas psikologi

Secara psikologis, anak didik memiliki keunikkan dan perbedaan-perbedaan baik perbedaan minat, bakat maupun potensi yangdimilikinya sesuai dengan tahapan perkembangannya. Oleh sebab itu kurikulum harus memperhatikan kondisi psikologi perkembangan dan psikologi belajar anak.[4]

  1. Asas sosiologis

Sekolah bukan hanya berfingsi untuk mewariskan kebudayaan dan nilai-nilai suatu masyarakat, akan tetapi juga berfungsi untuk mempersiapkan anak didik dalam kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, menyusun dan mengembangkan kurikulum harus sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Misalkan, para agamawan dan budayawan yang lebih menekankan pendidikan sekolah sebagai proses penanaman budi pekerti. Sedangkan para kelompok industriawan memandangan pendidikan sekolah sebagai wadah untuk membentuk generasi mudah yang siap pakai dengan sejumlah keterampilan teknis sesuai dengan tuntutan industri.

  1. Asas perkembangan IPTEK

Kurikulum sebaiknya disesuaikan dengan perkembangan teknologi terkini.

  1. Asas filsafat

Filsafat sebagai landasan yang fundamental memegang peran penting dalam proses pengembangan kurikulum. Ada empat fungsi filsafat dalam proses pengembangan kurikulum, diantaranya:

  1. Filasafat dapat menentukan arah dan tujuan pendidikan.
  2. Filsafat dapat menentukan isi atau materi pelajaran yang harus diberikan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
  3. Filsafat dapat menentukan strategi atau cara penyampaian tujuan
  4. Melalui filsafat dapat ditentukan bagaimana menetukan tolak ukur keberhasilan proses pendidikan.

 

  1. Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum

Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang dinamis. Hal ini berarti, bahwa kurikulum harus selalu dikembangkan dan disempurnakan agar sesuai dengan laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan kurikulum harus didasarkan pada prinsip-prinsip pengembangan yang berlaku. Hal ini dimaksudkan agar pengembangan kurikulum tersebut sesuai dengan minat, bakat, kebutuhan peserta didik, lingkungan, kebutuhan daerah sehingga dapat memperlancar pencapaian pelaksanaan proses pendidikan untuk pencapaian tujuan pendidikan Nasional. Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum, diantaranya:

  1. Prinsip relevansi ada dua macam yaitu relevansi internal dan eksternal. Relevansi internal adalah kesesuaian kurikulum dengan komponen-komponennya, yaitu keserasian antara tujuan yang dicapai, isi, materi, strategi atau metode yang digunakan serta alat penilaian untuk melihat ketercapaian tujuan. Relevasi eksternal ialah kesesuaian, keserasian antara tujuan, isi dan proses belajar siswa yang tercakup dalam kurikulum dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Jadi, Pendidikan dikatakan mempunyai relevansi apabila kualifikasi lulusan suatu lembaga pendidikan sesuai dengan tuntutan masyarakat.
  2. Prinsip efektivitas, efektivitas dalam kegiatan berkenaan dengan sejauh mana apa yang direncanakan atau diinginkan dapat dilaksanakan atau dapat dicapai.
  3. Prinsip efesiensi, Berkaitan dengan pelaksaan kurikulum atau proses belajar-mengajar, maka proses belajar-mengajar dikatakan  Efisien jika usaha, biaya dan waktu yang digunakan untuk menyelesaikan program pengajaran tersebut merealisasikan hasil yang optimal.
  4. Prinsip kesinambungan, kesinambungan dalam pengembangan kurikulum menyangkut keterkaitan antara berbagai tingkat dan jenis program pendidikan atau bidang studi.
  5. Prinsip fleksibilitas berarti tidak  kaku. Artinya, kurikulum itu harus bisa dilaksanakn sesuai dengan kondisi yang ada. Prinsip fleksibilitas meliliki dua sisi: pertama, fleksibel bagi guru artinya kurikulum harus memberikan ruang bagi guru untuk mengembangkan program pengajaran sesuai dengan kondisi yang ada. Kedua, fleksibel bagi siswa artinya kurikulum harus menyediakan berbagai program pilihan sesuai dengan bakat dan minat siswa.[5]

 

 


[1] Subandijah, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1993). Hal. 38

[2] Ibid,. hal. 38

[3] Dakir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004). Hal. 84

[4] Dakir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004). Hal. 62

[5] Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011). Hal. 39-42

Lucu-lucuan

Fisika memang sulit

Apalagi matematika

Putus cinta memang sulit

Apalagi cinta pertama

# # #

Buat apa pergi ke pasar

Kalau tidak beli keranjang

Buat apa punya pacar

Kau dia mata keranjang

# # #

Rambutan dijual di pasar

Anak desa pergi ke kota

Rajin-rajinlah belajar

Agar terwujud cita-cita

# # #

Rambutan nyangkut di lidah

Air dingin penyejuk dahaga

Rajin-rajinlah beribadah

Agar di akhirat mendapat surga

Biografi R.A Kartini

Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April tahun 1879 di kota Jepara, Jawa Tengah. Ia anak salah seorang bangsawan yang masih sangat taat pada adat istiadat. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Kartini kecil sangat sedih dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani karena takut dianggap anak durhaka. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian dibacanya di taman rumah dengan ditemani pembantunya.

Akhirnya membaca menjadi kegemarannya, tiada hari tanpa membaca. Semua buku, termasuk surat kabar dibacanya. Kalau ada kesulitan dalam memahami buku-buku dan surat kabar yang dibacanya, ia selalu menanyakan kepada Bapaknya. Melalui buku inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia). Timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Ditengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda. Tak berapa lama ia menulis surat pada Mr. J.H Abendanon. Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda. Baca lebih lanjut

Pendekatan Contectual Teaching and Learning

  1. Contectual Teaching and Learning

Pembelajaran Contectual Teaching and Learning (CTL) berawal dari ketidakpuasan para pengusaha di Amerika akan kemampuan para pencari kerja. Berdasarkan laporan secretary of labor’s commision on achieving necessary skills (SCANS), para pengusaha di Amerika membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya memiliki kemampuan di bidang akademik saja, tetapi mereka juga memiliki keterampilan praktis.

Berdasarkan permasalahan di atas muncullah desakakan reformasi dalam bidang pendidikan. Reformasi yang diinginkan ialah guru memberikan siswa bukan hanya keunggulan akademis, melainkan juga keterampilan teknis. Hal ini banyak mendapat dukungan dari pemerintah di Amerika bahkan mereka menerbitkan buku untuk menggambarkan isu-isu pendidikan yang muncul agar para pendidik ikut serta dalam memperbaiki dan mau menggati metode yang mereka terapkan dengan tujuan dan strategi yang baru.

Usaha yang dilakukan pemerintah ini tidak sia-sia. Pada tahun 90-an lembaga di Amerika telah berhasil mengadakan latihan kerja tentang mengaitkan mata pelajaran akademik dengan kehidupan nyata di seluruh Amerika. Keberhasilan ini menunjukan bahwa dukungan para pendidik terhadap program ini sangatlah besar.

Baca lebih lanjut

TEKNIK SUPERVISI

Teknik-Teknik dalam Supervisi Pendidikan

                Supervisor untuk meningkatkan program sekolah dapat menggunakan berbagai teknik atau metode supervise pendidikan. Pada hakikatnya, terdapat banyak teknik dalam menyelenggarakan program supervise pendidikan. Dari sejumlah teknik yang dapat diterapkan dalam pembelajaran, ditinjau dari banyaknya guru dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian besar, yakni teknik individual dan teknik kelompok. Berikut uraiannya:

  1. Teknik Individual (Individual Technique)

Teknik individual ialah supervisi yang dilakukan secara perseorangan, teknik ini digunakan apabila masalah yang dihadapi bersifat pribadi apalagi khusus atau “secret”. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain:

– kunjungan kelas                                         – kunjungan antar kelas

– observasi kelas                                            – menilai diri sendiri

– pertemuan individu

 

1)    Kunjungan kelas (classroom visitation)

Kunjungan kelas ialah kunjungan sewaktu-waktu yang dilakukan oleh supervisor (kepala sekolah, penilik, atau pengawas) untuk melihat atau mengamati pelaksanaan proses pembelajaran sehingga diperoleh data untuk tindak lanjut dalam pembinaan selanjutunya.

Tujuannya :

  1. mengobservasi bagaimana guru mengajar.
  2. Menolong para guru untuk mengatasi masalah-masalah yang mereka hadapi.

Fungsi:

  1. Mengoptimalkan cara belajar mengajar yang dilaksanakan para guru.
  2. Membantu mereka untuk menumbuhkan profesi kerja secara optimal.

2)    Observasi kelas (classroom observation)

Observasi kelas adalah teknik observasi yang dilakukan ketika supervisor yang secara aktif mengikuti jalannya kunjungan kelas ketika proses sedang berlangsung.

Tujuannya:

  1. Memperoleh data yang subjektif mengenai aspek situasi dalam proses pembelajaran yang diamati.
  2. Mempelajari praktek-praktek pembelajaran setiap pendidik dan mengevaluasinya.
  3. Menemukan kelebihan dan sifat yang menonjol pada setiap pendidik.
  4. Menemukan kebutuhan para pendidik falam menunaikan tugasnya.
  5. Memperoleh bahan-bahan dan informasi guna penyusunan program supervise.
  6. Mempererat dan memupuk integritas sekolah.

Aspek-aspek yang diobservasi:

  1. Usaha dan aktifitas guru-siswa dalam proses pembelajaran.
  2. Cara penggunaan media pembelajaran.
  3. Reaksi mental para peserta didik dalam proses pembelajaran.
  4. Keadaan media yang digunakan.
  5. Lingkungan social, fisik sekolah, baik di dalam maupun di luar kelas dan factor-faktor penunjang lainnya. Baca lebih lanjut

Pengertian Manajemen & Administrasi Pendidikan

Admistrasi pendidikan dalam arti luas ialah proses keseluruhan, kegiatan bersama dalam bidang pendidikan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian sumber daya organisasi. Pengarahan meliputi motivasi, kepemimpinan, pengambilan keputusan dan pemecahan masalah, komunikasi, koordinasi, negoisasi dan perubahan organisasi. Sedangkan pengendalian meliputi pemantuan, penilaian dan pelaporan. Administrasi pendidikan mencakup bidang-bidang garapan yang luas, diantaranya administrasi personel, administrasi kurikulum, kepemimpinan, kepengawasan atau supervisi pendidikan, administrasi bisnis pendidikan, organisasi lembaga pendidikan dan sebagainya.[1] Baca lebih lanjut